LA PAZ, TANAMPANEN.COM – Presiden Bolivia resmi menetapkan status darurat nasional menyusul krisis ekonomi yang kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ekstrem ini diambil guna meredam gejolak sosial serta memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan darurat tanpa hambatan birokrasi.
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan melonjaknya harga kebutuhan pokok menjadi pemicu utama protes massal di berbagai kota besar, termasuk La Paz dan Santa Cruz. Inflasi yang tidak terkendali membuat daya beli masyarakat merosot tajam, memicu antrean panjang di SPBU dan pusat perbelanjaan.
Dalam pidato resminya, Presiden Bolivia, Rodrigo Paz pada Sabtu (20/6) menyatakan bahwa status darurat ini diperlukan untuk mengamankan jalur distribusi logistik dan menstabilkan sektor keuangan yang kian rapuh.
Baca Juga:;Singapura Terhimpit Krisis Energi, Daya Beli Warga Terancam Lemah
Pemerintah juga berencana menerapkan pembatasan ketat terhadap penggunaan valuta asing guna mencegah pelarian modal ke luar negeri.
Aksi protes dari serikat pekerja dan pelaku bisnis sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi negara Amerika Selatan tersebut. Melalui penetapan status darurat ini, aparat keamanan kini memiliki wewenang lebih luas untuk menjaga ketertiban umum di titik-titik vital.
Baca Juga: Malaysia Tertekan Biaya Hidup, Harga Pangan dan Transportasi Mahal
Situasi ekonomi Bolivia terus mendapat sorotan tajam dari para pengamat geopolitik. Banyak pihak khawatir, jika langkah darurat ini gagal menstabilkan pasar, dampaknya dapat meluas dan memicu ketidakstabilan politik yang lebih masif di kawasan tersebut.(Red)
