Dolar Naik, Penjualan Ponsel Makin Lesu

Dolar Naik, Penjualan Ponsel Makin Lesu

JAKARTA, TanamPanen.com — Tren penguatan nilai tukar dolar AS yang kini menembus kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000 terus memukul sektor bisnis ritel elektronik di ibu kota. Salah satu dampak paling nyata terlihat di pusat perbelanjaan gawai terbesar di Jakarta Barat, Roxy Mas, di mana aktivitas jual beli telepon seluler (ponsel) mengalami kelesuan yang cukup mendalam sepanjang kuartal kedua tahun 2026.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (12/6), lorong-lorong pertokoan yang biasanya padat oleh pemburu gadget kini tampak lengang. Sejumlah pedagang mengaku terpaksa menaikkan harga jual atau mengorbankan margin keuntungan demi menyiasati lonjakan modal akibat melemahnya nilai tukar rupiah.

Hendrawan (42), pemilik toko retail Sky Phone di Roxy Mas, mengungkapkan bahwa penurunan omzet sudah terasa sejak dua bulan terakhir seiring dengan merangkaknya harga modal barang dari distributor.

“Hampir semua merek naik, Mas. Terutama ponsel di segmen mid-range (menengah) dan flagship (premium). Kenaikannya bervariasi antara Rp200.000 sampai Rp700.000 per unit, tergantung kapasitas memorinya. Karena modalnya pakai dolar, distributor terpaksa menyesuaikan harga, dan kami di tingkat pedagang eceran tidak punya pilihan selain ikut menaikkan harga atau memotong untung kami sendiri,” ujar Hendrawan saat ditemui di tokonya.

Baca Juga: Ponsel Jadul Nokia Ini Masih Laku dan Banyak Peminatnya, Apa Saja?

Ia menambahkan, kenaikan harga ini langsung berdampak pada minat beli masyarakat. Sebagian besar konsumen yang datang ke tokonya kini lebih banyak melakukan perbandingan harga atau sekadar membatalkan niat membeli.

“Penjualan kami turun sekitar 30 persen dibanding awal tahun lalu. Banyak konsumen yang memilih menunda ganti HP baru dan memilih memperbaiki HP lama mereka,” imbuhnya.

Baca Juga: Rekomendasi Ponsel Murah, Tapi Fitur Mewah, Ini Daftarnya!

Kondisi serupa juga diakui oleh pihak manajemen distributor lokal. Kenaikan harga ponsel di tahun 2026 ini dipicu oleh efek ganda (double hit), yakni depresiasi rupiah terhadap dolar AS serta kenaikan harga komponen global seperti chipset berbasis AI dan modul memori yang pasokannya masih fluktuatif di pasar internasional.

Asosiasi pedagang menilai, jika sentimen volatilitas mata uang asing ini terus berlanjut hingga kuartal ketiga, siklus pergantian ponsel (replacement cycle) masyarakat akan semakin panjang.

Pengamat pasar menyarankan para vendor dan peritel untuk memperbanyak program promosi, tukar-tambah (trade-in), atau kerja sama pembiayaan (cicilan ringan) guna merangsang kembali daya beli konsumen yang tengah lesu.(Red)