TanamPanen.com – Dunia teknologi pernah berada di ambang revolusi visual yang luar biasa. Bayangkan sebuah ponsel pintar berukuran genggaman normal, yang hanya dengan satu ketukan, layarnya bisa melebar secara otomatis dari 6.8 inci menjadi 7.4 inci. Tanpa bekas lipatan, tanpa mekanisme manual, melainkan digerakkan oleh motor penggerak mikro yang bekerja dengan sangat anggun.
Inilah LG Rollable, mahakarya yang digadang-gadang akan menjadi masa depan baru industri gadget. Sebuah lompatan teknologi layar motorik yang memukau mata dunia.
Namun sayang, takdir berkata lain. Tepat di garis finish saat perangkat ini sudah siap dirilis ke pasar, LG mengambil keputusan mengejutkan dengan pamit total dari industri mobile pada tahun 2021.
Proyek ambisius ini pun dihentikan seketika, menyisakan unit yang telanjur diproduksi hanya sebagai suvenir eksklusif bagi internal karyawan mereka. LG Rollable resmi gugur sebelum sempat bertanding, dan abadi menjadi sebuah legenda.
Baca Juga: Rekomendasi Ponsel Murah, Tapi Fitur Mewah, Ini Daftarnya!
Mengapa teknologi se-mutakhir ini tidak dilanjutkan secara massal oleh brand lain? Jawabannya ada pada realitas bisnis.
Mengembangkan layar gulung otomatis membutuhkan biaya produksi (production cost) yang teramat tinggi.
Komponen motorik yang rumit, risiko durabilitas terhadap debu, hingga tingginya potensi gagal dalam kontrol kualitas membuat para produsen berpikir ulang. Terlebih di tengah situasi ekonomi global saat ini, di mana daya beli masyarakat sedang berada di titik nadir.
Baca Juga: Xiaomi Rilis Smartphone Baru, Xiaomi 17T dan 17T Pro
Bagi pelaku usaha, memaksakan produk ultra-premium di segmen pasar yang sangat terbatas adalah langkah yang terlalu berisiko. Kita bisa melihat contoh nyata pada hp lipat tiga Huawei Mate XT Ultimate, yang harganya menembus angka Rp 50 juta per unit. Itu bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan komoditas elit dan simbol gengsi teknologi.
Saat ini, arah angin industri telah berubah. Para produsen lebih memilih jalur aman dengan mengejar bisnis skala cepat: menekan biaya produksi untuk menghasilkan ponsel berfitur lengkap dengan harga yang merakyat. Pragmatisme bisnis kini harus menang di atas idealisme teknologi.
Pada akhirnya, LG Rollable akan tetap dikenang sebagai pionir yang melompat terlalu cepat di waktu yang kurang tepat. Sebuah bukti bahwa inovasi terbaik sekalipun, tetap harus tunduk pada hukum pasar dan realitas ekonomi dunia.(Red)
