TanamPanen.com – Pada akhir dekade 2000-an, industri ponsel dunia sedang berada di puncak revolusi besar. Apple baru saja mengubah lanskap industri lewat iPhone, sementara Google mulai merayap naik melalui robot hijaunya, Android.
Di tengah pusaran kompetisi ini, raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, menyadari satu risiko besar: mereka tidak boleh menggantungkan nasibnya 100% pada sistem operasi milik perusahaan lain.
Dari kecemasan strategis itulah, pada November 2009, Samsung resmi memperkenalkan Bada OS—sebuah sistem operasi mandiri yang namanya diambil dari bahasa Korea yang berarti “laut”.
Ambisi Samsung saat itu sangat jelas. Mereka ingin menciptakan ekosistem sendiri demi mengamankan margin keuntungan dari sektor perangkat lunak, sekaligus menyediakan jembatan bagi pengguna ponsel biasa (feature phone) untuk bermigrasi ke smartphone dengan harga yang lebih membumi.
Baca Juga: BlackBerry Priv: Hp Android Pertama, Tumbang Juga Melawan Dominasi Produk China
Fajar Cerah Sang “Lautan“
Awal perjalanan Bada sebenarnya sangat menjanjikan. Di ajang Mobile World Congress 2010, Samsung memamerkan Samsung Wave (S8500) sebagai armada utama yang mengusung Bada OS 1.0.
Ponsel ini langsung mencuri perhatian dunia. Di balik tubuhnya yang kokoh berbahan metal dan layarnya yang memanjakan mata berkat teknologi Super AMOLED, Bada OS bekerja dengan sangat impresif.
Berbeda dengan Android masa itu yang terkenal berat dan rakus baterai, Bada OS justru tampil sangat ringan, responsif, dan stabil. Antarmukanya pun dibuat familier karena dibalut oleh skin TouchWiz khas Samsung. Konsumen menyukainya.
Bahkan pada tahun 2011, setelah meluncurkan pembaruan Bada 2.0 dan merilis varian murah seperti Wave Y dan Wave M, pangsa pasar Bada sempat meroket hingga mengalahkan Windows Phone di beberapa kawasan Eropa dan Asia Tenggara.
Namun, kecepatan angin industri berubah jauh lebih cepat daripada yang bisa diantisipasi oleh Samsung.
Baca Juga: Belajar dari Symbian: Akankah HarmonyOS Huawei Bakal Kalahkan Dominasi Android?
Terjebak di Antara Dua Raksasa
Meskipun Bada adalah sistem operasi yang efisien secara teknis, ia lahir di waktu yang salah. Industri smartphone berkembang bukan lagi sekadar adu keren spesifikasi ponsel, melainkan perang ekosistem aplikasi. Di sinilah Bada mulai megap-megap mengejar ketertinggalan.
Para pengembang aplikasi (developer) enggan melirik toko aplikasi Samsung Apps. Mereka memilih memusatkan energi dan modalnya untuk iOS yang penggunanya loyal dan royal, atau Android yang jumlah penggunanya tumbuh bak jamur di musim hujan.
Akibatnya, Bada mengalami kelangkaan aplikasi esensial. Ketika tren pesan instan seperti WhatsApp mulai meledak, pengguna Bada harus menunggu sangat lama untuk bisa menikmatinya. Ponsel kokoh tanpa aplikasi modern di dalamnya perlahan mulai terasa hambar bagi konsumen.
Baca Juga: Sony Kukuhkan Tahta, Rilis Xperia 1 VIII Lawan Dominasi Oppo Find X9 Ultra
Di sisi lain, Samsung mengalami dilema internal yang ironis. Di saat mereka mencoba membesarkan Bada, lini smartphone Samsung Galaxy S yang berbasis Android justru meledak di pasaran dan mendatangkan keuntungan raksasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Secara realistis, Samsung harus memilih di mana mereka akan menaruh taruhan terbesar. Hasilnya mudah ditebak: Android menjadi “anak emas” yang disiram anggaran riset dan pemasaran tanpa batas, sementara Bada perlahan-lahan tergeser ke bangku cadangan.
Tenggelam dan Menjadi Fondasi
Kecepatan adaptasi Android yang masif dan ekosistem iOS yang eksklusif akhirnya mengunci ruang gerak Bada. Fragmentasi perangkat yang terlalu kontras—dari seri Wave berspesifikasi rendah hingga premium—juga membuat pengembang semakin malas mengoptimalkan aplikasi mereka di OS ini.
Sadar bahwa mereka telah kalah melangkah dalam perang kecepatan, Samsung mengambil keputusan realistis. Pada Februari 2013, raksasa Korea ini resmi menghentikan pengembangan Bada OS. “Lautan” itu tidak benar-benar menguap begitu saja; Samsung meleburnya dengan proyek Linux lain untuk melahirkan Tizen OS—sistem operasi yang kelak menjadi otak dari jajaran Smart TV dan perangkat wearable Samsung.
Kisah Bada adalah pengingat melankolis di dunia teknologi: bahwa produk yang bagus, sekuat apa pun modal pembuatnya, akan tetap layu jika kalah cepat dalam membangun sebuah ekosistem yang hidup. Bada harus merelakan dirinya tenggelam, agar lini Galaxy berbasis Android bisa melenggang menjadi penguasa pasar dunia.
