JAKARTA – Para petani kelapa sawit di berbagai daerah kini tengah dirundung kecemasan mendalam. Harga Tandan Buah Segar (TBS) dilaporkan anjlok drastis dalam waktu singkat, memicu reaksi keras dan keresahan di akar rumput.
Hanya dalam kurun waktu satu minggu, harga sawit di tingkat petani yang semula berada di angka Rp3.300 per kilogram, kini merosot tajam menjadi hanya Rp1.900 per kilogram. Penurunan harga hampir mencapai 50% ini dinilai sangat tidak wajar dan memukul ekonomi para pekebun.
“buset kaget banget, dapet kabar dari suami harga sawit cuma 1.900 dari yg beberapa minggu lalu masih 3.300 , terjun banget harganya 😭😭,” tulis akun X @gieview, Minggu (24/5/2026).
Baca: Faktor Alam dan Produksi Picu Kenaikan Harga Cabai?
Pemicu Utama: Ketidakpastian Kebijakan
Anjloknya harga diduga kuat berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah yang baru saja mengumumkan pembentukan **PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI)**. BUMN ini direncanakan menjadi eksportir tunggal untuk komoditas sumber daya alam strategis, termasuk Crude Palm Oil (CPO).
Ketidakpastian regulasi dan mekanisme tata niaga ekspor ke depan membuat pelaku industri mengambil langkah aman. Banyak perusahaan refinery dan eksportir yang menahan diri untuk melakukan pembelian, sehingga menyebabkan stok TBS di lapangan menumpuk namun tidak terserap pasar.
Baca: Kebijakan Ekonomi Prabowo Guncang Pasar Komoditas Lewat Satu Pintu Danantara
Dampak di Tingkat Petani
Kondisi ini membuat banyak petani terpaksa menjual hasil panen mereka dengan harga “seadanya” karena khawatir buah akan membusuk jika tidak segera diolah oleh Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
“Kami sangat terpukul. Biaya operasional, pupuk, dan perawatan tidak ikut turun, tapi harga jual justru terjun bebas. Ini sangat memberatkan,” ujar salah satu petani yang terdampak.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai langkah stabilisasi harga yang akan diambil untuk meredam kekhawatiran petani. Pasar kini masih menunggu kepastian terkait teknis operasional PT Danantara agar arus ekspor dan harga di tingkat petani kembali normal.(Ren)
