BREBES – Dalam diskursus kebangsaan yang kerap kali disesaki oleh polarisasi, Islam hadir dengan wajah yang teduh namun tegas dalam memandang perbedaan. Salah satu landasan teologis paling fundamental bagi umat Islam untuk merangkul keragaman adalah QS. Al-Ma’idah ayat 48.
Ayat ini bukan sekadar perintah untuk hidup berdampingan, melainkan sebuah penegasan bahwa perbedaan adalah desain agung sang Pencipta.
Baca: Ini Ciri Istri Shalehah Idaman Para Suami: Bedah Literasi Kitab Pesantren
Mengunci Perdebatan dengan Ayat yang Tegas
KH. Said Aqil Siradj sering menekankan bahwa keberagaman umat manusia—mulai dari bahasa, seni, cara berpakaian, hingga cara mengolah makanan—adalah kehendak Allah. Hal ini selaras dengan potongan ayat 48 surah Al-Ma’idah:
“…Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…”
Dalam Tafsir Jalalain, ditegaskan bahwa shir’ah (aturan) dan manhaj (metode) yang berbeda-beda bagi setiap umat merupakan ujian. Allah sengaja menciptakan keragaman agar manusia tidak terjebak pada kesombongan identitas, melainkan fokus pada perlombaan dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Baca: Toleransi Adalah Sikap, Bukan Debat
Konteks Historis: Mengapa Ayat Ini Turun?
Untuk memahami ketegasan ayat ini, kita perlu menengok *asbabun nuzul*-nya. Ayat ini turun di tengah interaksi intens antara Rasulullah SAW dengan kaum Ahli Kitab yang mencoba menguji keputusan hukum Nabi. Saat itu, ada pihak-pihak yang mencoba mendistorsi kebenaran demi kepentingan kelompoknya sendiri dengan menyembunyikan hukum yang sebenarnya.
Turunnya ayat ini menjadi alarm bagi siapa pun untuk tidak merasa paling benar hingga memandang rendah pihak lain. Islam melalui ayat ini menegaskan bahwa legitimasi kebenaran bukan untuk digunakan sebagai alat menindas atau menghina “cara hidup” orang lain, melainkan untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan bersama.
Jika kita menarik ayat ini ke dalam kehidupan sehari-hari, toleransi bukanlah sikap pasif yang membiarkan perbedaan terjadi begitu saja. Toleransi adalah aksi aktif untuk “berlomba dalam kebajikan”.
Baca: Toleransi Adalah Sikap, Bukan Debat
Penutup: Toleransi sebagai Kekuatan
Islam tidak pernah meminta kita untuk menyeragamkan dunia. Sebaliknya, Islam memerintahkan kita untuk menghormati “jalan terang” masing-masing pihak sambil tetap memegang teguh nilai kebajikan kita sendiri.
Ketika kita mampu mengamalkan QS. Al-Ma’idah: 48, maka kebencian karena perbedaan akan luruh. Kita akan lebih sibuk menanam kebaikan daripada menghina pilihan orang lain. Inilah esensi keberagamaan yang dewasa: menghargai perbedaan sebagai anugerah, dan berlomba-lomba memberikan solusi nyata bagi kemanusiaan.
Penulis: Biren Muhammad
