TanamPanen – Seringkali kita terjebak di ruang digital yang membungkus “debat” dengan label “toleransi”. Padahal, keduanya adalah dua hal yang berseberangan. Debat adalah upaya penaklukan argumen, sedangkan toleransi adalah pengakuan atas hak orang lain untuk menjadi berbeda.
Melihat fenomena perpindahan atau perbedaan keyakinan yang sering dijadikan komoditas konten dan pemicu kegaduhan, sudah saatnya kita kembali pada makna toleransi yang sebenarnya:
1. Menghargai, Bukan Mengadili
Toleransi sejati tidak lahir dari ruang debat yang mencari siapa yang paling benar. Toleransi lahir dari kesadaran bahwa martabat manusia tidak diukur dari apakah dia mengikuti jalan yang sama dengan kita atau tidak.
Menghormati pilihan orang lain—bahkan saat pilihan itu berbeda secara fundamental dengan kita—adalah bentuk tertinggi dari kedewasaan.
Baca Juga:
- Pendapat Gus Baha vs Islah Bahrawi, Antara Logika Teologi dan Humanisme, Mana yang Benar?
- Ma’na Cum Maghza, Solusi Hukum Islam Lawan Kekakuan Tekstual!
2. Iman yang Kokoh Tidak Perlu Debat
Ketika seseorang telah mencapai level keyakinan yang dalam, dia tidak akan merasa terancam oleh perbedaan. Mengapa harus mendebat pilihan keyakinan orang lain?
Kedaulatan Tuhan tidak berkurang sedikit pun karena pilihan manusia. Orang yang yakin tidak akan sibuk “menjadi polisi akidah” bagi orang lain, melainkan fokus pada kehambaannya sendiri yang penuh kekurangan.
3. Memahami “Ketidaktahuan” sebagai Bentuk Maklum
Ketika melihat cibiran atau makian di kolom komentar terhadap perbedaan, kita tidak perlu membalas dengan kebencian. Seperti teladan luhur Baginda Nabi, ketika beliau dihina, beliau merespons dengan: *”Biarkan saja mereka begitu, karena mereka tidak tahu.”
Memaklumi ketidaktahuan orang lain tentang makna toleransi adalah cara terbaik untuk menjaga ketenangan jiwa dan stabilitas sosial.
4. Dialog untuk Hal yang Sama, Toleransi untuk Hal yang Berbeda
Mari jujur pada diri sendiri: Dialog memiliki fungsi teknis untuk memecahkan kebuntuan dalam masalah praktis (seperti fiqih muamalah atau ubudiyah) di antara mereka yang satu dasar keyakinan.
Namun, ketika bicara perbedaan keyakinan yang fundamental, tidak ada yang perlu didialogkan apalagi didebatkan. Cukup dengan sikap menghormati, selesai di situ.
Baca: Said Aqil Pastikan Tak Maju Caketum PBNU, Ini Peta Figur Potensial Penggantinya!
Kesimpulan
Perbedaan adalah bentuk keindahan kehidupan, bukan musuh yang harus diseragamkan. Jangan biarkan “industri kegaduhan” digital menyeret kita ke dalam perpecahan yang sia-sia demi keuntungan pihak tertentu. Musuh terbesar bukanlah perbedaan keyakinan, melainkan kebencian yang dipelihara oleh ketidaktahuan.
Jadilah pribadi yang tenang dalam keyakinan, dan dewasa dalam menyikapi perbedaan. Karena toleransi yang paling indah adalah saat kita mampu hidup berdampingan dengan damai tanpa perlu merasa harus mendebat siapa yang paling benar.
Silakan tentukan pilihan keyakinan, tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun. Soal Surga dan Neraka itu bukan kewenangan manusia. Itu adalah hak Tuhan untuk memutuskan hambanya masuk ke surga atau neraka.
Penulis: Biren Muhammad
