Oleh: Biren Muhammad
Lebih dari seabad yang lalu, tepatnya pada 20 Mei 1908, sebuah fajar baru menyingsing di tanah Hindia Belanda. Berdirinya Budi Utomo oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA bukan sekadar kelahiran sebuah organisasi pelopor. Itu adalah sebuah ledakan kesadaran.
Untuk pertama kalinya, anak-anak muda bumiputera sadar bahwa belenggu penjajahan tidak bisa dipatahkan dengan golok dan tombak secara parsial. Mereka menginisiasi perjuangan baru: perjuangan berbasis pemikiran, organisasi modern, pendidikan, dan persatuan nasional. Itulah titik mula yang kita agungkan hingga hari ini sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).
Namun, ketika jarum jam sejarah berputar hingga hari ini, sebuah pertanyaan retoris yang menggugat mendadak muncul ke permukaan: Apakah momentum sejarah ini masih memiliki ruh, atau jangan-jangan kita mulai kehilangan arah?
Benturan Realitas: Antara Narasi dan Fakta Lapangan
Jika kita berani membenturkan romantisme sejarah 1908 dengan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini, kita akan menemukan jurang pemisah yang cukup lebar.
Budi Utomo menggagas dengan cita-cita memajukan pendidikan dan martabat bangsa. Namun hari ini, dalam kehidupan bernegara, kita kerap disuguhi tontonan yang jauh dari nilai-nilai luhur tersebut.
Ruang publik kita riuh oleh polarisasi politik yang tak kunjung usai. Media sosial, yang seharusnya menjadi wadah pertukaran pemikiran yang mencerahkan, justru kerap beralih fungsi menjadi ring tinju caci maki dan katarsis kekecewaan rakyat terhadap kebijakan publik.
Baca: Nasionalis Sejati, Sultan Syarif Kasim II Korbankan Harta dan Tahta Demi Indonesia Merdeka
Di level struktural, narasi tentang “kebangkitan” dan “kemajuan” sering kali baru sebatas jargon seremonial dan etalase digital. Di atas kertas kita bicara pertumbuhan, namun di akar rumput, para petani, pedagang kecil, dan elemen ekonomi rakyat masih harus terseok-seok berjuang sendirian di tengah gempuran ketidakpastian pasar dan dominasi oligarki.
Menggugat Semangat Pemuda Hari Ini
Lantas, bagaimana dengan pemudanya? Apakah semangat generasi muda hari ini masih segaris dengan apa yang dicita-citakan oleh para pendahulu di STOVIA?
Sutomo dan kawan-kawannya adalah pemuda yang menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan kolektif—memikirkan nasib bangsanya yang tertindas. Mereka menukar kenyamanan pribadi sebagai calon dokter demi sebuah gerakan pergerakan.
Hari ini, tantangan pemuda tentu berbeda. Kita tidak lagi melawan penjajah asing berpakaian militer. Namun, tantangan terbesar pemuda modern adalah jebakan pragmatisme dan disrupsi digital yang melesat tanpa arah.
Baca: Bantargebang Penghasil Metana Terbesar Kedua di Dunia, Pemerintah Harus Lakukan Ini!
Sebagian pemuda kita terjebak dalam budaya instan, sibuk membangun citra di permukaan, namun rapuh dalam kedalaman literasi dan kemandirian berpikir. Ketika semangat kepeloporan itu luntur menjadi sekadar kepatuhan komersial atau apatisme politik, di situlah semangat Harkitnas mulai kehilangan kompasnya.
Refleksi: Menuju Indonesia yang Mandiri, Berdikari, dan Berdaulat secara Ekonomi
Kebangkitan Nasional tidak boleh berhenti menjadi ritual tahunan yang miskin makna. Momen ini harus menjadi alarm pengingat bagi seluruh elemen bangsa—baik pemimpin maupun rakyat—untuk kembali ke khitah perjuangan.
Jika kita ingin Indonesia benar-benar bangkit, kuncinya bukan pada kemegahan seremonial, melainkan pada pembuktian tiga pilar utama:
* Mandiri secara Pemikiran: Meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan yang memerdekakan, bukan sekadar mencetak pekerja, melainkan melahirkan pemikir dan inovator yang memiliki integritas moral.
* Berdikari secara Politik: Memulihkan iklim demokrasi yang sehat, di mana kebijakan publik dirumuskan demi kemaslahatan rakyat banyak, bukan untuk melayani segelintir elite atau penyokong dana di balik layar.
* Membangun Ekonomi Kerakyatan: Ini adalah fondasi terpenting. Kebangkitan sejati terjadi ketika ekonomi tidak lagi bertumpu pada segelintir raksasa (oligarki), melainkan ketika koperasi rakyat sejahtera dihidupkan, sektor pertanian dan produk lokal dikelola secara berdaulat dari hulu ke hilir, dan akses pasar dibuka seadil-adilnya bagi pelaku usaha kecil.
Menatap masa depan, Indonesia tidak kekurangan orang pintar, namun kita sedang krisis konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Mari jadikan Hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momentum bagi diri kita masing-masing: kurangi retorika, perbanyak kerja nyata di bidang kita masing-masing, bangun aset bangsa secara kolektif, dan kembalikan arah kompas republik ini menuju kesejahteraan rakyat yang sebenar-benarnya.
