Pesantren Maslakul Huda Pati Jadi Pionir Kemandirian Ekonomi Santri

Pesantren Maslakul Huda Pati Jadi Pionir Kemandirian Ekonomi Santri

PATI – Di tengah sorotan publik terhadap institusi pendidikan keagamaan, Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, justru menunjukkan wajah asli pesantren sebagai pusat pemberdayaan umat.

Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pesantren ini mempertegas peran santri dalam kedaulatan pangan dan ekonomi kerakyatan.

Pada akhir April 2026, Auditorium Pesantren Maslakul Huda menjadi saksi dimulainya langkah besar bimbingan teknis (Bimtek) pemberdayaan koperasi pondok pesantren.

Fokusnya jelas: mencetak santri menjadi entrepreneur di sektor perikanan dan pertanian, khususnya budidaya lele yang memiliki pasar luas.

Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), menegaskan bahwa kemandirian ekonomi adalah pondasi penting bagi seorang santri.

Menurutnya, santri masa kini harus memiliki jiwa wirausaha agar mampu menjadi solusi bagi persoalan ekonomi di masyarakat saat mereka lulus nanti.

“Harapannya para santri bersedia menjadi entrepreneur pertanian dan perikanan. Ini menjadi salah satu pondasi kemandirian, baik secara personal maupun institusi pesantren,” ungkap Gus Rozin di hadapan perwakilan dari 20 pesantren se-wilayah Pati.

Senada dengan hal tersebut, Tokoh masyarakat Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang hadir membuka acara, menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital bagi santri dalam mengembangkan usaha.

Ia berharap pesantren tidak hanya sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga pusat dakwah yang memberdayakan ekonomi warga sekitar.

Gerakan ini menjadi angin segar sekaligus “filter” alami bagi derasnya berita negatif. Saat satu oknum merusak citra, ribuan santri di Maslakul Huda dan puluhan pesantren lainnya di Pati justru sedang berjibaku belajar teknologi pertanian dan manajemen koperasi demi masa depan desa yang lebih mandiri.

Inisiatif seperti ini membuktikan bahwa nafas asli pesantren adalah pengabdian dan kemajuan, sebuah narasi yang harus terus disuarakan untuk menjaga marwah pendidikan karakter di tanah air.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *