Rupiah Melemah dan Saham Turun, Ini Biang Kerok Sebenarnya!

Rupiah Melemah dan Saham Turun, Ini Biang Kerok Sebenarnya!

BREBES – Belakangan ini, kita sering mendengar kabar kurang mengenakan dari dompet negara: nilai tukar rupiah kita sedang “loyo” terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan pasar saham Indonesia pun ikut memerah.

Mendengar hal ini, mungkin di media sosial banyak berseliweran rumor yang bikin dahi mengkerut. Ada yang bilang Indonesia sedang “diserang” negara luar, ada yang bilang lembaga dunia marah karena kita bikin program hilirisasi nikel, sampai isu kita dikucilkan.

Namun, apakah benar seperti itu? Mari kita bedah pelan-pelan dengan bahasa yang paling sederhana, tanpa istilah-istilah ekonomi yang bikin pusing.

Biang Kerok 1: Dunia Sedang “Musim Hujan”, Investor Cari Tempat Berteduh

Bayangkan Anda sedang berjalan-jalan di pasar malam, lalu tiba-tiba langit mendung hitam dan petir menyambar-nyambar. Apa yang akan Anda lakukan? Pasti Anda akan langsung berlari mencari ruko atau tempat berteduh yang paling kokoh agar tidak basah kuyup, bukan?

Baca: Rupiah Makin Lemah, Pukulan Telak Bagi Usaha Mikro dan Makro di Pedesaan

Nah, situasi dunia saat ini persis seperti pasar malam yang mau badai itu. Ada perang yang berkecamuk di Timur Tengah, ditambah kondisi ekonomi di Amerika Serikat yang sedang tidak menentu.

Di dunia keuangan, para pemilik modal raksasa (investor asing) adalah orang-orang di pasar malam tadi. Mereka panik melihat situasi dunia yang tidak aman. Akhirnya, mereka berbondong-bondong menarik uang mereka dari negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—dan memindahkannya ke tempat yang mereka anggap paling aman di dunia, yaitu Dolar AS dan Emas.

Karena semua orang di dunia berebut membeli dolar AS, otomatis harga dolar jadi sangat mahal. Sebaliknya, karena rupiah banyak dijual dan ditinggalkan untuk sementara, nilai rupiah kita jadi melemah. Jadi, ini bukan karena kita diserang, melainkan karena investor global sedang “tiarap” mencari aman. Kondisi ini tidak hanya menimpa Indonesia, tapi juga dialami oleh negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, hingga India.

Biang Kerok 2: Aturan Main “Arisan” Saham Dunia yang Berubah

Lalu, kenapa harga saham-saham di Indonesia banyak yang bertumbangan?
Anggaplah ada sebuah kelompok arisan elit tingkat dunia bernama MSCI. Kelompok ini punya daftar toko-toko (saham perusahaan) mana saja di dunia yang wajib dikunjungi dan dibeli oleh anggotanya. Selama ini, banyak saham perusahaan besar Indonesia masuk dalam daftar elit tersebut.

Baca: Pasar Saham Jakarta Anjlok, Begini Dampaknya Bagi Masyarakat di Daerah!

Namun, baru-baru ini, kelompok arisan MSCI ini melakukan evaluasi rutin. Mereka melihat beberapa saham perusahaan di Indonesia sudah terlalu banyak dikuasai oleh segelintir pemilik modal besar, sehingga sisa saham yang bisa dibeli masyarakat umum jadi terlalu sedikit (tidak likuid).

Sesuai aturan main mereka, MSCI akhirnya mencoret beberapa saham Indonesia dari daftar rekomendasi tersebut. Begitu dicoret, komputer para investor asing secara otomatis langsung menjual saham-saham tersebut demi mematuhi aturan kelompok mereka. Penjualan besar-besaran secara mendadak inilah yang membuat pasar saham kita kompak merosot, bukan karena perusahaan kita bangkrut atau ekonomi kita hancur.

Apakah Kita Perlu Panik?
Jawabannya: Tidak perlu.

Ibarat rumah, pondasi ekonomi Indonesia sebenarnya masih sangat kokoh. Warung-warung masih buka, pabrik masih beroperasi, dan ekspor hasil bumi kita yang sudah diolah (hilirisasi) justru menjadi tameng agar ekonomi kita tidak ambruk total akibat badai global ini.

Jika ada narasi yang menyebut rupiah anjlok karena pemerintah dihukum asing, itu hanyalah bumbu-bumbu politik yang dibuat agar ceritanya terdengar lebih dramatis. Yang terjadi saat ini murni karena hukum alam ekonomi: saat dunia sedang tidak aman, semua orang memilih memegang uang yang dianggap paling aman. Nanti, begitu badai global mereda, para pemilik modal itu akan kembali lagi membawa uangnya ke Indonesia.(Red)